 Gadis ini terlahir dengan nama Nisha Rahmanti di Bandung pada tanggal 22 April 1978 dari pasangan suami istri Drs. Sucipto WS, M.M. dan Dra. Nunung Quraisin. Tapi temen-temennya sih manggil dia Ichaatau Ncha, dan di rumah malah dipanggil si Neng sama keluarganya. Dari masih di kandungan, Sang Ayah yakin banget kalau Icha akan terlahir sebagai perempuan. Makanya langsung diberi nama Nisha waktu lahir, penggalan dari kata annissa dalam bahasa arab yang berarti perempuan. Rahmanti sendiri diambil dari nama dokter yang menolong kelahiran Icha saat itu. Kalau diartikan secara luas, Nisha Rahmanti bisa diartikan menjadi seorang perempuan yang disayang.
 Icha merupakan anak tengah dan perempuan satu-satunya dari 3 bersaudara. Dengan kakaknya, Adham Kurnia, Icha hanya berjarak setahun. Sedangkan dengan adik Dimas Krismandi, Icha berjarak 4 tahun. Dulu waktu Dimas lahir, Icha dilanda rasa iri yang luar biasa sampai-sampai Icha sering menggigit jempol kaki bayi Dimas sebagai luapan rasa kekesalannya. Maklum deh, terbiasa menjadi si bungsu, si Icha tidak rela Dimas datang tiba-tiba merebut seluruh perhatian keluarga yang tadinya hanya tertuju pada Icha. Padahal sekarang setelah mereka dewasa, Icha merasa Dimas-lah orang terdekat dalam keluarganya. Mereka berdua bagaikan sahabat deh!
 Icha menghabiskan masa kecil di Surabaya dan Samarinda, mengikuti Sang Ayah yang ditugaskan ke sana. Saat Taman Kanak-kanak di Surabaya, Icha sudah melihatkan sifat pemberani. Ketika itu Adham, kakak Icha, berulang tahun dan dirayakan di sekolah. Adham bukannya bergembira ria berpesta dengan teman-temannya, dia malah menangis karena malu dan ketakutan. Sedangkan Icha sibuk bernyanyi-nyanyi dan menikmati suasana pesta tersebut, bagaikan yang berulang tahun. Sepertinya bakat centil juga ya, Cha?
 Semasa Sekolah Dasar di Samarinda itu, Icha selalu mendapat peringkat satu di sekolah dan sering mengikuti berbagai kegiatan seperti paduan suara, cerdas cermat, bahkan menari Bali. Di masa ini pulalah Icha mulai senang membaca berbagai buku karya Enid Blyton seperti seri Malory Towers, seri St. Claire, seri Lima Sekawan, dan yang lainnya. Icha juga mulai mencoba untuk menulis cerita-cerita menurut versinya sendiri. Rupanya bakat Icha ini didukung oleh Sang Ibu yang terus-menerus mengomporinya untuk menulis berbagai cerita. Icha juga galak lho! Kalau berantem, Icha bukan cuma perang mulut seperti layaknya cewek-cewek SD. Icha berani gebuk-gebukan kalo ditantangin berantem.
 Icha kemudian melanjutkan ke SMP 2 Bandung, masih mengikuti Ayahnya yang dipindahtugaskan ke sana. Kebiasaan belajar setiap hari dan larangan dari orang tua untuk keluar di hari sekolah, membuat Icha tetap mendapatkan peringkat satu di sekolah. Kelemahannya di pelajaran Bahasa Sunda, diakali Icha dengan menghafal mati bahasa tersebut. Di SMP 2 ini pula gadis penggemar cheese cake ini mulai naksir temen sekelasnya walaupun belum pacaran. Biasanya Icha hanya menuangkan isi hatinya dalam diary atau curhat ke temen-temennya saja. Bakat Icha menulis juga lebih berkembang, dengan seringnya menulis berbagai cerita bersambung secara tandem dengan teman-temannya menggunakan buku-buku catatan sekolah. Cerita pendek Icha yang berudul ‘Juragan Memo’ pun pernah dimuat di majalah Kawanku. Waktu itu honornya 50 ribu rupiah saja..
|