|
Page 1 of 3 Sudah menjadi fenomena baru, sastra chicklit digandrungi masyarakat pembaca novel saat ini. Apa sih sebenarnya yang menjadi daya tarik jenis sastra ini?
Chicklit ini adalah singkatan dari chick literature. Chick adalah bahasa slang untuk perempuan kota besar/urban. Jadi sesuai namanya, genre ini bercerita tentang keseharian perempuan di kota besar, perempuan dewasa muda berusia 20-30 tahun yang sedang struggle memperjuangkan karier dan kehidupan cintanya, istilahnya berjuang mengatasi quarter-life-crisis-nya.
Apa daya tariknya? Sebelum menulis chicklit, saya melakukan survey via internet tentang genre ini. Payung besar chicklit adalah genre popular fiction. Yang menjadi ciri genre ini adalah kedekatan tema cerita, yang biasanya mengambil masalah yang dihadapi in our daily life, keseharian juga.
Gaya bertutur yang santai, ringan, lagi-lagi memberikan kedekatan juga dengan pembacanya, karena tidak mempergunakan gaya bertutur yang formal, sehingga seperti membaca cerita sendiri, atau cerita orang disekitar kita.
Ditulis dengan penuh humor (kocak), sehingga entertaining. Jadi intinya menurut saya daya tariknya justru dari adanya kedekatan cerita dan gaya bertutur dengan keseharian pembacanya, sehingga sering berkesan “gue banget!” Apa saja tema yang kerap diusungnya? Bagaimana pula tokoh-tokohnya, konflik-konfliknya, termasuk alur cerita yang disampaikannya? Apakah sama atau beda dengan genre sastra (novel fiksi selama ini)?
Tema sepertinya sudah terjawab di atas.
Tokohnya.. Nah, ini dia, saya tadi lupa cerita, salah satu lagi keunggulan dan ciri genre ini adalah tokohnya sangat membumi. Menurut salah satu sumber di internet, yang membedakan tokoh di chicklit dengan novel klasik di luar adalah tokohnya diangkat dari seorang yang biasa—ordinary people yang mencoba live their life aja. Di novel klasik di luar (misalnya Gone With the Wind atau novel-novelnya Sidney Sheldon) kan kadang tokohnya dibikin sangat luar biasa : keturunan bangsawan, jago 5 bahasa, bla..bla..bla. Di chicklit, yang kadang di angkat justru “cacat” orang itu. Misalnya seperti tokoh Bridget Jones dengan problem cinta dan berat badannya, tokoh yang gila belanja, dan kalau di chicklit saya, saya mengangkat tokoh perempuan yang pernah terobsesi sekian tahun oleh seorang laki-laki. Kadang justru “kekurangan” ini yang lebih ditonjolkan sehingga membuat tokohnya sangat humble, membumi, just like one of us—dengan segala kekurangan kita, tapi pada akhirnya si tokoh ini bisa menjadi “pahlawan” untuk dirinya sendiri, sehingga kita yang membaca terinspirasi olehnya.
Kalau mengenai alur, saya pikir relatif sama, karena nggak ada patokan khusus, tergantung kreativitas penulisnya. Kenapa Anda langsung memilih akan bergerak di genre sastra ini? Apa saja alasan-alasannya?
Jadi sebetulnya kenapa saya menulis, itu adalah berawal dari konsep untuk menulis buku di bawah payung chicklit Indonesia asli, baru kemudian turun ke ceritanya.
Why? Kebiasaan saya menulis sebetulnya berawal dari kesukaan saya membaca dan saya tidak pernah belajar menulis secara khusus kecuali dari pelajaran Bahasa Indonesia dulu. Jadi saya banyak belajar dari bacaan saya. Dari kesukaan saya membaca macam-macam buku, saya akhirnya berkenalan dengan buku bergenre chicklit ini dan saya suka karena merasa ceritanya “gue banget”. Dari suka, saya jadi gemas karena pada waktu itu chicklit didominasi oleh buku terjemahan atau buku luar. Padahal penggemarnya mulai banyak.
Gemas karena akhirnya saya berkesimpulan bahwa mungkin di belahan dunia manapun perempuan itu sama, ada sisi yang perempuan banget yang mengikat kita. Nah, gemasnya karena saya merasa cerita perempuan perkotaan Indonesia juga nggak kalah banyak, malah mungkin lebih kaya karena begitu pindah setting lokasi kita akan menemukan local content yang berbeda-beda karena budaya atau agama. Perempuan-perempuan perkotaan di sini malah mungkin lebih mendapat banyak tekanan karena secara rentang umur untuk mengakhiri masa lajang di sini kan relatif lebih singkat ketimbang di luar. Jadi perempuan perkotaan di sini malah lebih rentan dengan quarter life crisis, karena banyak benturan sosial, budaya, dan agama. Makanya saya bilang lebih kaya. Jadi dengan memilih genre itu, saya kepengen sharing juga tag line: Waktunya perempuan Indonesia punya ceritanya sendiri!
Ini maksudnya sebelum bisa mengcounter buku-buku luar/terjemahan dari genre ini yang membanjiri pasar buku kita, setidaknya memberi option bagi penggemar chicklit tanah air.
Lalu saya pikir dengan potensi pasar yang ada, saya perhatikan belum ada penulis Indonesia yang menekuni genre ini dengan serius. Sayang jadinya. Dan untuk gaya menulis, saya juga merasa lebih menemukan ritme dan diri sendiri di genre ini.
|